Apakah itu Firman? Untuk apa aku mengenal Firman Tuhan?

Yohanes 1:1 "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah."
Yohanes 1:12 "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya"

Minggu, 04 Oktober 2009

Melayani Hingga Kelelahan (2Timotius 4:7 ; Roma 12:11)

Namanya Charles Spurgeon. Pelayanannya cukup sukses dan menarik banyak orang-orang muda London's Metropolitan Tabernacle tempatnya melayani, terletak di seberang stasiun bawah tanah, bagian selatan London. Setiap kebaktian hari Minggu, jemaat yang hadir untuk beribadah berkisar 300 orang.

Minggu pagi tanggal 7 Juni 1891, ia masih berkhotbah. Ia sangat kelelahan di dalam pelayanan dan hatinya hancur oleh kesedihan yang disebabkan konflik denominasi. Wajah yang tampak keriput dan rambut yang memutih menggambarkan beratnya beban dan keletihan yang ia tanggung. Tubuhanya pun tampak lemah saat itu. Hari itu ia mengakhiri khotbahnya dengan kata-kata, "Puji nama Tuhan, empat puluh tahun lebih saya melayani Dia dan saya tidak memiliki apa-apa selain dari kasih dari-Nya. Saya akan sangat senang melanjutkan empat puluh tahun lagi pelayanan disini jika itu yang Tuhan kehendaki. Pelayanan-Nya adalah hidup, kedamaian dan sukacita. Jika Anda mau, Anda bisa memasukinya dengan sekejap. Tuhan menolong Anda untuk bergabung di bawah panji-panji Yesus hari ini juga. Amin." Spurgeon tidak tahu bahwa itu adalah kata-katanya yang terakhir di mimbar.

Pada sore harinya, jemaat terkejut mendengar bahwa ia jatuh sakit. Lebih dari satu bulan ia hanya berbaring di tempat tidur. Tidak jarang ia tidak sadarkan diri dan terkadang berhalusinasi. Jemaat merindukan khotbahnya dan mereka terus mengadakan pertemuan doa. Beberapa bulan kemudian, Spurgeon yang belum pulih melakukan perjalanan pelayanan ke bagian selatan Perancis. Saat itu ia sangat yakin akan sembuh. Melihat Spurgeon masih sangat lemah, beberapa orang memasang lift di tempat dimana ia akan melayani agar ia tidak kelelahan ketika naik tangga. Tetapi apa yang terjadi, menjelang tengah malam pada tanggal 31 Januari 1892 di Hotel Beau Rivage, Menton, Perancis, Spurgeon meninggal di depan istrinya dan beberapa orang sahabatnya. Berita itu mengejutkan Inggris dan beberapa hari kemudian, sekitar 100.000 orang berduka mengiringi jenazahnya ketika memasuki Upper Norwood Cemetery di London. Hamba yang penuh pengabdian kepada Tuannya ini meninggal pada usia 57 tahun setelah puluhan tahun bekerja bagi Yesus hingga kelelahan.

Bagaimana dengan kita yang terpanggil untuk melayani Tuhan? Apakah kita juga sudah bekerja sungguh-sungguh bagi Dia? Spurgeon memberikan kita teladan untuk memandang pekerjaan Tuhan sebagai suatu pekerjaan dan tanggung jawab yang amat penting, sehingga ia lupa akan keadaan fisiknya sendiri. Jika saat ini Anda sering merasakan kelelahan yang berat karena harus menunaikan tugas pelayanan, bersukacitalah karena semua itu akan diperhitungkan oleh Tuhan. Di dunia ini Anda boleh lelah karena melayani Tuhan, tetapi kelak Anda akan beristirahat dalam kemuliaan yang Tuhan sediakan.

Jangan pernah menyesal bekerja bagi Tuhan, karena Ia pasti memberikan upah yang sesuai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar