Di tahun 1770 dalam perjalanan pelayanan terakhir di seluruh kolonia Amerika, George Whitefield tidak menghiraukan anjuran para dokter serta sahabat-sahabatnya agar ia beristirahat. Nampak sekali ia sangat lelah untuk berkhotbah, tetapi ia justru semakin bersemangat mengangkat suara memberitakan firman Tuhan. Bahkan ketika penyakit asmanya kambuh dan membuatnya sulit bernafas, ia tidak peduli. Ia berkata, "Mengeluarkan keringat diatas mimbar adalah baik bagiku."
Suatu hari ketika ia mengendarai kuda ke Exeter, New Hampshire, ada yang melihat bahwa penampilannya begitu lemah. Orang tersebut berkata bahwa Whitefield lebih pantas beristirahat di tempat tidur daripada berkhotbah. Whitefield membenarkan bahwa ia sakit dan sudah seharusnya beristirahat di tempat tidur, tetapi ia berdoa, "Tuhan, ada kelelahan dalam pekerjaanMu, tetapi bukan karena itu. Jika aku belum menyelesaikan tugasku, izinkan aku bicara bagiMu satu kali lagi dan pulang ke rumah kemudian meninggal."
Ketika banyak orang sudah berkumpul, Whitefield berdiri diatas sebuah tong, kemudian mengkhotbahkan 2Kor 13:5, "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak didalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji." Sesudah berkhotbah ia berjalan dengan susah payah. Setelah ia berkhotbah ada yang berkata, "Ia lelah karena bekerja keras. Wajahnya tampak bengkak, suaranya berat dan serak, tetapi semangatnya tiba-tiba bangkit dan sesudah itu suaranya menggelegar ketika berkhotbah kepada semua yang hadir." "Tubuhku boleh rusak, tetapi semangatku semakin besar," katanya.
Setelah khotbahnya selesai, ia dibantu beberapa orang untuk naik ke kudanya, lalu ia melanjutkan perjalanan ke Newburyport. Beberapa orang teman berkumpul pada malam itu dan memintanya untuk berbicara. Saat itu asma membuatnya sangat menderita, tetapi ia berdiri dan mengambil sebuah lilin, berdiri di anak tangga dan memberikan pesan singkat namun sangat menyentuh mereka. Setelah itu ia naik tangga dan tidur untuk selamanya.
Sekarang ini tidak sedikit orang yang menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan, tetapi menolak mengorbankan waktu istirahat dan tenaganya untuk melayani Tuhan. Ada yang menjadikan kelemahan tubuh atau penyakitnya sebagai alasan untuk memanjakan diri dan tidak mau melayani. Lihatlah bagaimana Whitefield melayani Tuhan tanpa menghiraukan kondisi tubuhnya. Begitu pula yang sudah dilakukan oleh Charles G. Spurgeon dan banyak hamba Tuhan lainnya yang sudah mengorbankan kenyamanan diri mereka demi pekerjaan Tuhan. Bagaimana dengan kita yang mengaku sebagai hamba Tuhan? Sudahkah kita berkorban untuk pekerjaan Tuhan, ataukah kita lebih mementingkan kenyamanan diri sendiri?
Suatu hari ketika ia mengendarai kuda ke Exeter, New Hampshire, ada yang melihat bahwa penampilannya begitu lemah. Orang tersebut berkata bahwa Whitefield lebih pantas beristirahat di tempat tidur daripada berkhotbah. Whitefield membenarkan bahwa ia sakit dan sudah seharusnya beristirahat di tempat tidur, tetapi ia berdoa, "Tuhan, ada kelelahan dalam pekerjaanMu, tetapi bukan karena itu. Jika aku belum menyelesaikan tugasku, izinkan aku bicara bagiMu satu kali lagi dan pulang ke rumah kemudian meninggal."
Ketika banyak orang sudah berkumpul, Whitefield berdiri diatas sebuah tong, kemudian mengkhotbahkan 2Kor 13:5, "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak didalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji." Sesudah berkhotbah ia berjalan dengan susah payah. Setelah ia berkhotbah ada yang berkata, "Ia lelah karena bekerja keras. Wajahnya tampak bengkak, suaranya berat dan serak, tetapi semangatnya tiba-tiba bangkit dan sesudah itu suaranya menggelegar ketika berkhotbah kepada semua yang hadir." "Tubuhku boleh rusak, tetapi semangatku semakin besar," katanya.
Setelah khotbahnya selesai, ia dibantu beberapa orang untuk naik ke kudanya, lalu ia melanjutkan perjalanan ke Newburyport. Beberapa orang teman berkumpul pada malam itu dan memintanya untuk berbicara. Saat itu asma membuatnya sangat menderita, tetapi ia berdiri dan mengambil sebuah lilin, berdiri di anak tangga dan memberikan pesan singkat namun sangat menyentuh mereka. Setelah itu ia naik tangga dan tidur untuk selamanya.
Sekarang ini tidak sedikit orang yang menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan, tetapi menolak mengorbankan waktu istirahat dan tenaganya untuk melayani Tuhan. Ada yang menjadikan kelemahan tubuh atau penyakitnya sebagai alasan untuk memanjakan diri dan tidak mau melayani. Lihatlah bagaimana Whitefield melayani Tuhan tanpa menghiraukan kondisi tubuhnya. Begitu pula yang sudah dilakukan oleh Charles G. Spurgeon dan banyak hamba Tuhan lainnya yang sudah mengorbankan kenyamanan diri mereka demi pekerjaan Tuhan. Bagaimana dengan kita yang mengaku sebagai hamba Tuhan? Sudahkah kita berkorban untuk pekerjaan Tuhan, ataukah kita lebih mementingkan kenyamanan diri sendiri?
Kasih kepada Tuhan akan membuat seseorang tidak lagi menghiraukan kepentingan dan kenyamanan dirinya
Saya suka dengan kisah di atas. Whitefield, spurgeon, livingstone, finney dll terbukti dipakai krn pengabdian yg tdk kenal lelah.
BalasHapus