Apakah itu Firman? Untuk apa aku mengenal Firman Tuhan?

Yohanes 1:1 "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah."
Yohanes 1:12 "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya"

Senin, 19 Oktober 2009

Tunaikan Tugas Pelayanan (Yohanes 17:4 ; 2Timotius 4:7-8)

Di tahun 1770 dalam perjalanan pelayanan terakhir di seluruh kolonia Amerika, George Whitefield tidak menghiraukan anjuran para dokter serta sahabat-sahabatnya agar ia beristirahat. Nampak sekali ia sangat lelah untuk berkhotbah, tetapi ia justru semakin bersemangat mengangkat suara memberitakan firman Tuhan. Bahkan ketika penyakit asmanya kambuh dan membuatnya sulit bernafas, ia tidak peduli. Ia berkata, "Mengeluarkan keringat diatas mimbar adalah baik bagiku."

Suatu hari ketika ia mengendarai kuda ke Exeter, New Hampshire, ada yang melihat bahwa penampilannya begitu lemah. Orang tersebut berkata bahwa Whitefield lebih pantas beristirahat di tempat tidur daripada berkhotbah. Whitefield membenarkan bahwa ia sakit dan sudah seharusnya beristirahat di tempat tidur, tetapi ia berdoa, "Tuhan, ada kelelahan dalam pekerjaanMu, tetapi bukan karena itu. Jika aku belum menyelesaikan tugasku, izinkan aku bicara bagiMu satu kali lagi dan pulang ke rumah kemudian meninggal."

Ketika banyak orang sudah berkumpul, Whitefield berdiri diatas sebuah tong, kemudian mengkhotbahkan 2Kor 13:5, "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak didalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji." Sesudah berkhotbah ia berjalan dengan susah payah. Setelah ia berkhotbah ada yang berkata, "Ia lelah karena bekerja keras. Wajahnya tampak bengkak, suaranya berat dan serak, tetapi semangatnya tiba-tiba bangkit dan sesudah itu suaranya menggelegar ketika berkhotbah kepada semua yang hadir." "Tubuhku boleh rusak, tetapi semangatku semakin besar," katanya.

Setelah khotbahnya selesai, ia dibantu beberapa orang untuk naik ke kudanya, lalu ia melanjutkan perjalanan ke Newburyport. Beberapa orang teman berkumpul pada malam itu dan memintanya untuk berbicara. Saat itu asma membuatnya sangat menderita, tetapi ia berdiri dan mengambil sebuah lilin, berdiri di anak tangga dan memberikan pesan singkat namun sangat menyentuh mereka. Setelah itu ia naik tangga dan tidur untuk selamanya.

Sekarang ini tidak sedikit orang yang menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan, tetapi menolak mengorbankan waktu istirahat dan tenaganya untuk melayani Tuhan. Ada yang menjadikan kelemahan tubuh atau penyakitnya sebagai alasan untuk memanjakan diri dan tidak mau melayani. Lihatlah bagaimana Whitefield melayani Tuhan tanpa menghiraukan kondisi tubuhnya. Begitu pula yang sudah dilakukan oleh Charles G. Spurgeon dan banyak hamba Tuhan lainnya yang sudah mengorbankan kenyamanan diri mereka demi pekerjaan Tuhan. Bagaimana dengan kita yang mengaku sebagai hamba Tuhan? Sudahkah kita berkorban untuk pekerjaan Tuhan, ataukah kita lebih mementingkan kenyamanan diri sendiri?

Kasih kepada Tuhan akan membuat seseorang tidak lagi menghiraukan kepentingan dan kenyamanan dirinya

Minggu, 04 Oktober 2009

Melayani Hingga Kelelahan (2Timotius 4:7 ; Roma 12:11)

Namanya Charles Spurgeon. Pelayanannya cukup sukses dan menarik banyak orang-orang muda London's Metropolitan Tabernacle tempatnya melayani, terletak di seberang stasiun bawah tanah, bagian selatan London. Setiap kebaktian hari Minggu, jemaat yang hadir untuk beribadah berkisar 300 orang.

Minggu pagi tanggal 7 Juni 1891, ia masih berkhotbah. Ia sangat kelelahan di dalam pelayanan dan hatinya hancur oleh kesedihan yang disebabkan konflik denominasi. Wajah yang tampak keriput dan rambut yang memutih menggambarkan beratnya beban dan keletihan yang ia tanggung. Tubuhanya pun tampak lemah saat itu. Hari itu ia mengakhiri khotbahnya dengan kata-kata, "Puji nama Tuhan, empat puluh tahun lebih saya melayani Dia dan saya tidak memiliki apa-apa selain dari kasih dari-Nya. Saya akan sangat senang melanjutkan empat puluh tahun lagi pelayanan disini jika itu yang Tuhan kehendaki. Pelayanan-Nya adalah hidup, kedamaian dan sukacita. Jika Anda mau, Anda bisa memasukinya dengan sekejap. Tuhan menolong Anda untuk bergabung di bawah panji-panji Yesus hari ini juga. Amin." Spurgeon tidak tahu bahwa itu adalah kata-katanya yang terakhir di mimbar.

Pada sore harinya, jemaat terkejut mendengar bahwa ia jatuh sakit. Lebih dari satu bulan ia hanya berbaring di tempat tidur. Tidak jarang ia tidak sadarkan diri dan terkadang berhalusinasi. Jemaat merindukan khotbahnya dan mereka terus mengadakan pertemuan doa. Beberapa bulan kemudian, Spurgeon yang belum pulih melakukan perjalanan pelayanan ke bagian selatan Perancis. Saat itu ia sangat yakin akan sembuh. Melihat Spurgeon masih sangat lemah, beberapa orang memasang lift di tempat dimana ia akan melayani agar ia tidak kelelahan ketika naik tangga. Tetapi apa yang terjadi, menjelang tengah malam pada tanggal 31 Januari 1892 di Hotel Beau Rivage, Menton, Perancis, Spurgeon meninggal di depan istrinya dan beberapa orang sahabatnya. Berita itu mengejutkan Inggris dan beberapa hari kemudian, sekitar 100.000 orang berduka mengiringi jenazahnya ketika memasuki Upper Norwood Cemetery di London. Hamba yang penuh pengabdian kepada Tuannya ini meninggal pada usia 57 tahun setelah puluhan tahun bekerja bagi Yesus hingga kelelahan.

Bagaimana dengan kita yang terpanggil untuk melayani Tuhan? Apakah kita juga sudah bekerja sungguh-sungguh bagi Dia? Spurgeon memberikan kita teladan untuk memandang pekerjaan Tuhan sebagai suatu pekerjaan dan tanggung jawab yang amat penting, sehingga ia lupa akan keadaan fisiknya sendiri. Jika saat ini Anda sering merasakan kelelahan yang berat karena harus menunaikan tugas pelayanan, bersukacitalah karena semua itu akan diperhitungkan oleh Tuhan. Di dunia ini Anda boleh lelah karena melayani Tuhan, tetapi kelak Anda akan beristirahat dalam kemuliaan yang Tuhan sediakan.

Jangan pernah menyesal bekerja bagi Tuhan, karena Ia pasti memberikan upah yang sesuai

Minggu, 13 September 2009

Tangan-Nya Mengangkatku (Mazmur 37:23-28)

Iman seorang gadis yang berkomitmen mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan sedang diuji tatkala ia berkenalan dengan seorang pria yang juga mengaku mengasihi Tuhan. Diawal perkenalan si gadis merasa cocok dan terbangun semangatnya karena pria itu selalu mendukungnya. Setelah beberapa bulan berjalan, si gadis mulai menjauh dari Tuhan. Dulu si gadis gemar berdoa, tapi kini bayang-bayang pemuda itu selalu berhasil merebut perhatian dan waktu yang dipakainya untuk berdoa. Dulu si gadis sangat anti dengan topik yang menjurus kepada ketidakkudusan, tetapi lambat laun ia mulai ikut-ikutan menikmatinya. Dulu si gadis begitu bersemangat melayani, kini ia menghindar karena merasa bahwa ia punya hak untuk menggunakan waktu menurut keinginannya sendiri. Beberapa waktu kemudian si gadis merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya dan ia menyadari penyebabnya. Di beberapa kesempatan ia mencoba untuk melepaskan diri dari kuatnya pengaruh pria yang sudah menghampiri hidupnya, tetapi tiap kali godaan itu terasa lebih kuat dan membuatnya kembali terhempas. Batin si gadis menjerit, ia sangat menginginkan damai sejahtera dari Yesus kembali memenuhi hidupnya.

Disuatu siang, di sebuah ibadah si gadis berkata, "Tuhan Yesus, aku tidak mengerti bagaimana harus keluar dari lingkaran setan ini. Tolonglah aku!" Seketika pikirannya Tuhan bawa kepada suatu suasana yang lain, dimana ia bersama pria yang dicintainya itu sedang asyik bermain di sungai yang terlihat jernih dan tenang. Mereka terus bermain tanpa menyadari bahwa mereka terbawa arus sungai. Si gadis mulai merasa bahwa aliran itu semakin deras dan mendorongnya begitu kuat. Kemudian ia mendengar desau air, kini ia sadar bahwa mereka hampir sampai ditepi air terjun. Si gadis bingung dan ketakutan, sementara pria pujaannya berenang menjauhi tepian air terjun dan meninggalkannya yang tak berdaya. Ditengah keputusasaan si gadis berteriak, "Tuhan tolong aku.... aku takut...." Saat ia terjatuh, tiba-tiba ada tangan besar dan kuat yang mengangkatnya sehingga ia tidak terjun bersama air yang dibawahnya ada batu-batu besar yang mencelakakannya. Kemudian tangan itu membawanya ke tempat yang tenang dan memeluknya. Saat itulah ia kembali merasakan damai sejahtera yang selama ini dirindukannya. "Tenanglah anak-Ku, Aku selalu menolongmu. Aku mendengar seruanmu." Itulah tutur kata dari Penolongnya. Ketika ia melihat wajah Penolongnya itu, ia sangat mengenalnya. Pria yang mengangkatnya adalah Yesus yang dikasihinya. Siang itu Yesus mengangkat si gadis dari keterpurukannya.

Setiap orang percaya seringkali jatuh kedalam dosa, tetapi Tuhan takkan pernah membiarkannya tergeletak binasa didalam dosa itu. Dia akan mengangkat anak yang dikasihi-Nya tatkala anak-Nya itu berteriak memohon pertolongan-Nya (Mzm 37:24). Bangkitlah, bertobatlah, kuatkan dan teguhkan hati kita. Karena tangan Tuhan siap mengangkat kita!

Putuskan hubungan apapun yang menjauhkan Anda dari Tuhan. Hidup tanpa Dia berarti binasa