Apakah itu Firman? Untuk apa aku mengenal Firman Tuhan?

Yohanes 1:1 "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah."
Yohanes 1:12 "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya"

Senin, 28 Juni 2010

Mazmur 145:9


“Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.”


So, sebagai orang Kristen, kita tidak boleh saling merendahkan ataupun meninggikan diri satu sama lain. Karena, sesuai dengan Firman Tuhan, kebaikkan-Nya itu sama dan adil untuk kita. Tidak ada yang di 'anak emaskan' oleh-Nya.

Pengaruh dan Kapasitas Yang Besar (Keluaran 3:7-10; Pengkhotbah 3:10-11)


Dibutuhkan waktu yang relatif lama, pelatihan, dan pengalaman-pengalaman pahit atau manis untuk membentuk seseorang menjadi pemimpin yang handal. Railand adalah contoh pribadi yang siap serta bersedia melalui proses pembentukan menjadi pemimpin yang memberi pengaruh kepada orang banyak. Railand adalah orang biasa yang kemudian diproses menjadi seorang pemimpin sejak ia menjadi anggota jemaat sekaligus pengerja gereja di Skyline. Railand kemudian memperlengkapi dirinya dengan bersekolah di sebuah seminari dan magang di gereja yang dipimpin oleh John Maxwell. Di Skyline, Railand menundukkan dirinya untuk diberdayakan. Karena kemauan serta kerja kerasnya, Railand berhasil mencetak prestasi-prestasi yang membuatnya mulai dipercayai oleh motivator sehebat John Maxwell. Tahun 1995, ketika John Maxwell meninggalkan pengembalaan yang sudah dipegangnya selama empat belas tahun, motivator ternama itu meminta Railand untuk menduduki jabatan sebagai Wakil Direktur INJOY, organisasi yang dipimpin oleh John Maxwell. Railand berhasil melalui waktu-waktu sulit yang menghantarkannya menjadi pemimpin yang memberi pengaruh bagi banyak orang.
Tidak ada keberhasilan yang dicapai dalam waktu semalam, kalaupun ada itu hanya ada pada dongeng Aladin dengan cerita 1001 malamnya. Alkitab memberi contoh tokoh-tokoh yang Tuhan persiapkan selama puluhan tahun baru dipakai luar biasa. Musa diproses selama 80 tahun, baru dipercayakan untuk memimpin umat-Nya yang besar. Selama empat puluh tahun Musa dipersiapkan di istana Firaun dengan belajar kepemimpinan secara sekuler. Ia belajar hukum-hukum Mesir, ilmu perang, dll. Setelah selesai di Mesir, Tuhan membentuk sikap Musa di Midian, yaitu dengan cara mengembalakan kambing domba mertuanya. Di Midian, Musa tunduk kepada mertuanya yang adalah seorang imam. Pada tahap ini, terbentuk kesetiaan dan kesabaran Musa sebagai seorang yang akan mengembalakan umat Tuhan yang tegar tengkuk. Setelah itu barulah Tuhan mempercayakan perkara yang lebih besar kepadanya, sehingga Alkitab mencatat Musa sebagai pemimpin berhati lembut yang berkenan di mata Tuhan.
Seseorang siap dipakai untuk kapasitas yang besar semata-mata bukan karena adanya kesempatan besar yang diberikan kepadanya, tetapi lebih kepada apakah ia memiliki serangkaian sikap positif yang mendukungnya menjadi pemimpin dengan pengaruh yang besar. Pemimpin yang besar memiliki pengaruh positif yang besar. Pengaruh itu bukan untuk kebaikan dirinya semata, tetapi juga bagi orang-orang yang Tuhan percayakan untuk dipimpinnya.
Rindukah kita menjadi pemimpin yang mempengaruhi hidup banyak orang dan menjadi saluran berkat bagi sesama? Persiapkanlah diri kita dengan baik, lalui setiap proses pembentukan dengan hati yang taat dan takut akan Tuhan. Jika tiba waktunya, Tuhan sendiri yang akan mengangkat kita menjadi pemimpin yang handal dengan teritorial yang luas.

Tuhan hanya akan mempercayai orang-orang yang setia menjalani proses yang dirancang-Nya.

Senin, 21 Juni 2010

Pelangi Itu Tidak Hilang (Mazmur 18:31)


Di sebuah desa, tinggal sebuah keluarga saleh. Mereka termasuk keluarga kecil yang cukup sejahtera. Baik suami maupun istri sama-sama bekerja. Sang suami bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik, sedang istri menjadi guru di SD dekat tempat tinggal mereka. Anak tunggalnya masih bersekolah di SD tempat ibunya mengajar. Hidup mereka dipenuhi dengan kegembiraan. Hingga suatu hari terjadi peristiwa yang tidak mereka harapkan, yaitu sang suami di PHK dengan alasan Krisis. Satu, dua bulan memang belum terasa penurunan kehidupan mereka karena ada pesangon yang diberikan oleh pihak pabrik. Tetapi, menginjak bulan ketiga mulailah mereka merasakan kesulitan sebab pesangonnya sudah mulai habis sementara sang istri tidak bertambah honor mengajarnya. Bulan keempat mereka sudah benar-benar mengalami kesulitan sebab sang suami belum mendapatkan pekerjaan lagi. Sementara itu suaminya mulai putus asa dan mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dikatakan oleh orang percaya, “Katanya Tuhan berjanji akan memelihara kita, mana janji-Nya itu?”. Keadaan ini berlangsung selama berhari-hari.
Suatu hari sementara mereka masih dalam keputusasaan, terjadi peristiwa yang membuat mereka “bertobat”. Cuaca buruk terjadi di daerah itu. Bunyi petir bersahut-sahutan, awan gelap menutupi seluruh langit di wilayah itu. Tak lama kemudian hujan deraspun turun. Setelah satu jam, hujan mulai reda. Sinar matahari mulai menembus awan yang tersisa yang kadang masih menurunkan tetesan-tetesan air. Dan, langitpun sudah mulai nampak pelangi yang indah. Sang suami, istri, dan anaknya melihat fenomena alam ini dengan biasa-biasa saja. Sekitar lima menit kemudian, mereka dikagetkan oleh bunyi petir yang masih “tersisa”. Seakan tak mau kalah, awanpun mulai menutupi sinar matahari lagi. “Pak, Bu, pelanginya hilang.” Kata anaknya. Tetapi, tidak berselang lama, sinar matahari mulai menampakan diri dan saat itu pelangi pun muncul lagi. Demikian seterusnya terjadi berkali-kali. “Pelangi itu tidak hilang, Nak. Dia hanya bersembunyi sebentar.” Kata ayahnya. Ternyata perkataan sang suami ini menyadarkan istrinya tentang janji Tuhan. Kemudian ia berkata, “Pak, Nak, sebagaimana pelangi itu tidak hilang dan hanya bersembunyi sesaat karena awan dan petir, demikian juga dengan janji Tuhan. Janji Tuhan untuk memelihara kita tidak pernah hilang. Ketika awan masalah menimpa kita, seakan-akan janji Tuhan itu hilang. Tetapi, nanti sinar kasih Tuhan akan bersinar sehingga kita bisa melihat dengan janji Tuhan itu.”
Mungkin saat ini kita sedang dirundung permasalahan yang membuat kita tidak bisa melihat janji-janji pemeliharaan Tuhan. Ingat bahwa Tuhan adalah setia adanya. Dia tidak pernah mengingkari janji-Nya. Mintalah bimbingan Roh Kudus supaya dimampukan untuk melihat kembali janji Tuhan, sehingga kita tidak putus asa dan tetap teguh.

Janji Tuhan tidak akan pernah bisa dihapuskan oleh masalah apapun yang menimpa umat-Nya.

Senin, 19 Oktober 2009

Tunaikan Tugas Pelayanan (Yohanes 17:4 ; 2Timotius 4:7-8)

Di tahun 1770 dalam perjalanan pelayanan terakhir di seluruh kolonia Amerika, George Whitefield tidak menghiraukan anjuran para dokter serta sahabat-sahabatnya agar ia beristirahat. Nampak sekali ia sangat lelah untuk berkhotbah, tetapi ia justru semakin bersemangat mengangkat suara memberitakan firman Tuhan. Bahkan ketika penyakit asmanya kambuh dan membuatnya sulit bernafas, ia tidak peduli. Ia berkata, "Mengeluarkan keringat diatas mimbar adalah baik bagiku."

Suatu hari ketika ia mengendarai kuda ke Exeter, New Hampshire, ada yang melihat bahwa penampilannya begitu lemah. Orang tersebut berkata bahwa Whitefield lebih pantas beristirahat di tempat tidur daripada berkhotbah. Whitefield membenarkan bahwa ia sakit dan sudah seharusnya beristirahat di tempat tidur, tetapi ia berdoa, "Tuhan, ada kelelahan dalam pekerjaanMu, tetapi bukan karena itu. Jika aku belum menyelesaikan tugasku, izinkan aku bicara bagiMu satu kali lagi dan pulang ke rumah kemudian meninggal."

Ketika banyak orang sudah berkumpul, Whitefield berdiri diatas sebuah tong, kemudian mengkhotbahkan 2Kor 13:5, "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak didalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji." Sesudah berkhotbah ia berjalan dengan susah payah. Setelah ia berkhotbah ada yang berkata, "Ia lelah karena bekerja keras. Wajahnya tampak bengkak, suaranya berat dan serak, tetapi semangatnya tiba-tiba bangkit dan sesudah itu suaranya menggelegar ketika berkhotbah kepada semua yang hadir." "Tubuhku boleh rusak, tetapi semangatku semakin besar," katanya.

Setelah khotbahnya selesai, ia dibantu beberapa orang untuk naik ke kudanya, lalu ia melanjutkan perjalanan ke Newburyport. Beberapa orang teman berkumpul pada malam itu dan memintanya untuk berbicara. Saat itu asma membuatnya sangat menderita, tetapi ia berdiri dan mengambil sebuah lilin, berdiri di anak tangga dan memberikan pesan singkat namun sangat menyentuh mereka. Setelah itu ia naik tangga dan tidur untuk selamanya.

Sekarang ini tidak sedikit orang yang menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan, tetapi menolak mengorbankan waktu istirahat dan tenaganya untuk melayani Tuhan. Ada yang menjadikan kelemahan tubuh atau penyakitnya sebagai alasan untuk memanjakan diri dan tidak mau melayani. Lihatlah bagaimana Whitefield melayani Tuhan tanpa menghiraukan kondisi tubuhnya. Begitu pula yang sudah dilakukan oleh Charles G. Spurgeon dan banyak hamba Tuhan lainnya yang sudah mengorbankan kenyamanan diri mereka demi pekerjaan Tuhan. Bagaimana dengan kita yang mengaku sebagai hamba Tuhan? Sudahkah kita berkorban untuk pekerjaan Tuhan, ataukah kita lebih mementingkan kenyamanan diri sendiri?

Kasih kepada Tuhan akan membuat seseorang tidak lagi menghiraukan kepentingan dan kenyamanan dirinya

Minggu, 04 Oktober 2009

Melayani Hingga Kelelahan (2Timotius 4:7 ; Roma 12:11)

Namanya Charles Spurgeon. Pelayanannya cukup sukses dan menarik banyak orang-orang muda London's Metropolitan Tabernacle tempatnya melayani, terletak di seberang stasiun bawah tanah, bagian selatan London. Setiap kebaktian hari Minggu, jemaat yang hadir untuk beribadah berkisar 300 orang.

Minggu pagi tanggal 7 Juni 1891, ia masih berkhotbah. Ia sangat kelelahan di dalam pelayanan dan hatinya hancur oleh kesedihan yang disebabkan konflik denominasi. Wajah yang tampak keriput dan rambut yang memutih menggambarkan beratnya beban dan keletihan yang ia tanggung. Tubuhanya pun tampak lemah saat itu. Hari itu ia mengakhiri khotbahnya dengan kata-kata, "Puji nama Tuhan, empat puluh tahun lebih saya melayani Dia dan saya tidak memiliki apa-apa selain dari kasih dari-Nya. Saya akan sangat senang melanjutkan empat puluh tahun lagi pelayanan disini jika itu yang Tuhan kehendaki. Pelayanan-Nya adalah hidup, kedamaian dan sukacita. Jika Anda mau, Anda bisa memasukinya dengan sekejap. Tuhan menolong Anda untuk bergabung di bawah panji-panji Yesus hari ini juga. Amin." Spurgeon tidak tahu bahwa itu adalah kata-katanya yang terakhir di mimbar.

Pada sore harinya, jemaat terkejut mendengar bahwa ia jatuh sakit. Lebih dari satu bulan ia hanya berbaring di tempat tidur. Tidak jarang ia tidak sadarkan diri dan terkadang berhalusinasi. Jemaat merindukan khotbahnya dan mereka terus mengadakan pertemuan doa. Beberapa bulan kemudian, Spurgeon yang belum pulih melakukan perjalanan pelayanan ke bagian selatan Perancis. Saat itu ia sangat yakin akan sembuh. Melihat Spurgeon masih sangat lemah, beberapa orang memasang lift di tempat dimana ia akan melayani agar ia tidak kelelahan ketika naik tangga. Tetapi apa yang terjadi, menjelang tengah malam pada tanggal 31 Januari 1892 di Hotel Beau Rivage, Menton, Perancis, Spurgeon meninggal di depan istrinya dan beberapa orang sahabatnya. Berita itu mengejutkan Inggris dan beberapa hari kemudian, sekitar 100.000 orang berduka mengiringi jenazahnya ketika memasuki Upper Norwood Cemetery di London. Hamba yang penuh pengabdian kepada Tuannya ini meninggal pada usia 57 tahun setelah puluhan tahun bekerja bagi Yesus hingga kelelahan.

Bagaimana dengan kita yang terpanggil untuk melayani Tuhan? Apakah kita juga sudah bekerja sungguh-sungguh bagi Dia? Spurgeon memberikan kita teladan untuk memandang pekerjaan Tuhan sebagai suatu pekerjaan dan tanggung jawab yang amat penting, sehingga ia lupa akan keadaan fisiknya sendiri. Jika saat ini Anda sering merasakan kelelahan yang berat karena harus menunaikan tugas pelayanan, bersukacitalah karena semua itu akan diperhitungkan oleh Tuhan. Di dunia ini Anda boleh lelah karena melayani Tuhan, tetapi kelak Anda akan beristirahat dalam kemuliaan yang Tuhan sediakan.

Jangan pernah menyesal bekerja bagi Tuhan, karena Ia pasti memberikan upah yang sesuai